Abubakari II
Penguasa Kolonkan terakhir, Bata Manding Bory, dimahkotai sebagai Mansa Abubakari II pada tahun 1310.[13] Ia meneruskan gaya kekuasaan non-militan yang mengkarakterisasikan Gao dan Mohammed ibn Gao, tetapi tertarik dengan laut di sebelah barat kekaisaran. Menurut catatan yang diberi oleh Mansa Musa I, yang selama era kekuasaan Abubakari II menjadi kankoro-sigui mansa, Mali mengirim dua ekspedisi ke samudra Atlantik. Mansa Abubakari II meninggalkan Musa sebagai wali raja kekaisaran, menunjukan stabilitas yang mengagumkan selama periode ini di Mali, dan berangkat dengan ekspedisi kedua yang memerintahkan 4.000 pirogue dilengkapi dengan dayung dan layar tahun 1311.[27] Baik kaisar ataupun kapal tidak pernah kembali ke Mali. Sejarawan dan ilmuwan modern ragu-ragu mengenai keberhasilan pelayaran, tetapi catatan mengenai hal tersebut ada di catatan tertulis Afrika Utara dan catatan lisan djeli Mali.
[sunting] Garis silsilah Laye 1312-1389
Abdikasi Abubakari II tahun 1312, satu-satunya yang tercatat dalam sejarah, menandai dimulainya garis silsilah baru yang berasal dari Faga Laye.[13] Faga Laye adalah putra dari Abubakari I. Tidak seperti ayahnya, Faga Laye tidak pernah mengambil tahta Mali. Namun, garis ini akan menghasilkan tujuh mansa yang berkuasa selama puncak kekuasaan Mali dan menuju awal dari kemundurannya.
[sunting] Pemerintahan
Kekaisaran Mali mencapai luasnya yang terbesar dibawah mansa Laye. Selama periode ini, Mali terdiri dari hampir seluruh wilayah antara Gurun Sahara dan hutan pantai. Kekaisaran ini terbentang dari Samudera Atlantik sampai Niamey modern di Niger. Pada tahun 1350, kekaisaran ini memiliki luas kira-kira 439.400 kilometer persegi. Kekaisaran ini juga mencapai populasi terbesarnya selama periode Laye dengan menguasai 400 kota,[28] dan desa dari berbagai region dan etnis. Ulama pada era itu mengklaim perlu tidak kurang dari satu tahun untuk melintasi kekaisaran dari barat ke timur. Selama periode ini, hanya kekaisaran Mongolia yang wilayahnya lebih besar.
Peningkatan dramatis besar kekaisaran meminta giliran dari organisasi Manden Kurufa tiga negara bagian dengan dua belas tanah jajahan. Model ini ialah sisa oleh waktu haji Mansa Munsa ke Mesir. Menurut al'Umari, yang mewawanarai seorang Berber yang telah hidup di Niani selama 35 tahun, terdapat empat belas provinsi (kerajaan jajahan). Pada catatan al-'Umari, ia hanya mencatat tiga belas provinsi berikut.[29]
Gana (provinsi ini merujuk pada sisa Kekaisaran Ghana)
Zagun atau Zafun (nama lain dari Diafunu)[30]
Tirakka atau Turanka (Antara Gana dan Tadmekka)[31]
Tekrur (Pada cataract ketiga sungai Senegal, sebelah utara Dyolof)
Sanagana (dinamai dari suku yang hidup di wilayah ini sebelah utara sungai Senegal)
Bambuck atau Bambughu (wilayah penambangan emas)
Zargatabana
Darmura atau Babitra Darmura
Zaga (di Niger)
Kabora atau Kabura (juga di Niger)
Baraquri atau Baraghuri
Gao atau Kawkaw (provinsi yang dihuni oleh Songhai)
Mali atau Manden (ibukota provinsi yang merupakan asal nama kekaisaran)
[sunting] Musa I
Masjid Sankore.Penguasa pertama dari Laye adalah Kankan Musa, juga disebut sebagai Kango Musa. Setelah setahun lewat tanpa kabar mengenai Abubakari II, ia dimahkotai sebagai Mansa Foamed Musa. Mansa Musa adalah salah satu orang Muslim pertama yang sungguh-sungguh taat untuk menuntun Kekaisaran Mali. Ia mencoba untuk membuat agama Islam sebagai kepercayaan kaum ningrat,[12] tetapi tetap membiarkan tradisi kerajaan yang tidak memaksa populasinya. Ia juga melaksanakan perayaan Id pada akhir Ramadan. Ia dapat membaca dan menulis aksara Arab dan tertarik pada kota Timbuktu, yang digabung olehnya dengan damai tahun 1324. Melalui salah satu wanita kerajaan istananya, Munsa mengubah Sankore dari madrasah tidak resmi menjadi universitas Islam. Penelitian Islam tumbuh subur sesudah itu. Pada tahun yang sama, jendral Mandinka yang diketahui sebagai Sagmandir mengakhiri pemberontakan di Gao.[12]
Pencapaian pemahkotaan Mansa Musa adalah peziarahan terkenalnya ke Mekkah, yang dimulai pada tahun 1324 dan ia kembali pada tahun 1326. Catatan mengenai berapa banyak orang dan berapa banyak emas yang ia gunakan bervariasi. Semuanya setuju bahwa grup penjaga mansa terdiri dari pasukan yang sangat besar (mansa menyimpan pasukan penjaga sebanyak 500 orang),[32] dan ia memberikan sangat banyak sedekah dan membawa sangat banyak barang yang dihargai emas di Mesir dan timur dekat yang menurun harganya selama dua belas tahun.[33] Ketika ia melewati Kairo, sejarawan al-Maqurizi mencatat "anggota orang yang menemani mansa membeli budak wanita Turki dan Ethiopia, garmen dan wanita penyanyi, sehingga harga emas dinar turun enam dirham."
Musa sangat pemurah sehingga ia kehabisan uang dan terpaksa melelang agar dapat kembali ke rumah. Haji Musa, dan terutama emasnya, menarik perhatian dunia Islam dan Kekristenan, oleh sebab itu, Nama Mali dan Timbuktu muncul pada peta dunia abad ke-14.
Ketika sedang melakukan haji, ia bertemu penyair dan arsitek Al-Andalus, Es-Saheli. Mansa Musa membawa arsitek ini kembali ke Mali untuk mempercantik beberapa bagian kota. Masjid dibangun di Gao dan Timbuktu bersama dengan istana yang mengagumkan yang juga dibangun di Timbuktu. Pada saat kematiannya tahun 1337, Mali telah menguasai Taghazza, wilayah produsen garam di utara, yang makin memperkuat keuangannya.
Mansa Musa diteruskan oleh anaknya, Maghan I.[12] Mansa Maghan I menghabiskan uang dengan tidak berguna dan merupakan kaisar lesu pertama sejak Khalifa. Kekaisaran Mali yang dibangun oleh pendahulunya terlalu kuat untuk pemerintahan tak becusnya dan diberikan secara utuh kepada saudara kandung Musa, Souleyman tahun 1341.
[sunting] Souleyman
Mansa Souleyman mengambil pengukuran curam untuk mengembalikan bentuk finansial Mali kdan mengembangkan reputasi untuk kepelitan.[12] Namun, ia membuktikan menjadi pemimpin kuat dan baik meskipun terdapat beberapa tantangan. Selama kekuasaannya, serangan Fula di Takrur dimulai. Terdapat konspirasi istana untuk menurunkannya untuk digantikan oleh Qasa (istilah Manding yang berarti Ratu) dan beberapa komandan pasukan.[12] Jendral Mansa Souleyman berhasil menghadapi penyerangan militer ini, dan istri senior dibalik rencana ini dipenjarakan.
Sang mansa juga berhasil melaksanakan sebuah ibadah haji, melanjutkan korepondensi dengan Maroko dan Mesir dan membangun sebuah panggung dari tanah di Kangaba yang disebut Camanbolon, tempat ia beraudiensi menerima para gubernur provinsi dan menaruh Kitab-kitab Suci yang ia bawa kembali dari Hejaz.
Satu-satunya kemunduran utama kekuasaannya adalah hilangnya provinsi Dyolof Mali ke tangan Senegal. Populasi Wolof di wilayah itu disatukan ke negara mereka sendiri yang disebut sebagai Kekaisaran Jolof tahun 1350-an. Ketika Ibn Battuta tiba di Mali pada Juli 1352, ia menemukan peradaban yang berkembang besar. Mansa Souleyman meninggal pada tahun 1360 dan diteruskan oleh putranya, Camba.
[sunting] Mari Djata II
Setelah kekuasaan belaka selama sembilan bulan, Mansa Camba diturunkan oleh salah satu dari tiga putra Maghan I. Konkodougou Kamissa, dinamai dari provinsi yang pernah diperintahnya,[13] dimahkotai sebagai Mansa Mari Djata II tahun 1360. Ia berkuasa dengan menindas dan hampir membangkrutkan Mali dengan pengeluarannya yang berlimpah. Ia dapat berhubungan dengan Moroko, mengirim jerapah ke Raja Abu Hassan dari Maghreb. Mansa Mari Djata II sakit pada tahun 1372,[12] dan kekuasaan berpindah ke tangan menterinya sampai kematiannya tahun 1374.
[sunting] Musa II
Era kehancuran Mari Djata II meninggalkan kekaisaran dalam keadaan finansial yang buruk, tetapi kekaisaran ini diserahkan kepada saudara kandung kaisar yang sudah meninggal. Mansa Fadima Musa atau Mansa Musa II, memulai proses pengembalian kewalahan saudara kandungnya.[12] Ia tidak melakukannya; namun, pengadaan kekuasaan mansa sebelumnya karena pengaruh kankoro-siguinya.
Kankoro-Sigui Mari Djata, yang tidak berhubungan dengan klan Keita, menjalankan kekaisaran dibawah kaedah Musa II. Ia memadamkan pemberontakan Taureg di Takedda dan berkampanye di Gao. Sementara ia berhasil di Tahkedda, ia tidak pernah menang di Gao. Pemukiman Songhai dengan efektif mengguncang kekuasaan Mali tahun 1375. Pada saat kematian Mansa Musa II tahun 1387, Mali secara finansial mampu membayar hutang dan memegang semua penaklukan Gao dan Dyolof sebelumnya. Empat puluh tahun setelah kekuasaan Mansa Musa I, kekaisaran Mali masih menguasai 1.1 juta meter wilayah di sepanjang Afrika Barat.[34]
[sunting] Maghan II
Anak terakhir Maghan I, Tenin Maghan (juga disebut sebagai Kita Tenin Maghan untuk provinsi yang pernah ia perintah) dimahkotai sebagai Mansa Maghan II tahun 1387.[13] Sedikit yang diketahui tentangnya kecuali bahwa ia berkuasa selama dua tahun. Ia diturunkahn tahun 1389 yang menandai berakhirnya era mansa Faga Laye.
[sunting] Garis silsilah gelap 1389-1545
Dari tahun 1389, Mali akan memperoleh mansa yang asal usulnya gelap. Periode ini merupakan periode yang paling sedikit diketahui dalam sejarah kerajaan Mali. Apa yang nampak adalah bahwa tidak ada garis silsilah mantap yang memerintah kekaisaran. Karakteristik lain era ini adalah hilangnya wilayah utara dan timur dengan bangkitnya kekaisaran Songhai dan fokus terhadap ekonomi Mali dari rute perdagangan trans-sahara sampai perdagangan sepanjang pantai yang berkembang.
[sunting] Maghan III
Mansa Sandaki, keturunan Kankoro-Sigui Mari Djata, menurunkan Maghan II dan menjadi orang pertama tanpa hubungan dengan dinasti Keita yang secara resmi berkuasa di Mali.[12] Ia hanya akan berkuasa setahun sebelum keturunan Mansa Gao menurunkannya.[35] Mahmud, yang mungkin cucu atau anak cucu dari Mansa Gao, dimahkotai sebagai Mansa Maghan III tahun 1390. Selama kekuasaannya, kaisar Mossi, Bonga dari Yatenga menyerang Mali dan menghancurkan Macina.[12] Kaisar Bonga tidak terlihat menguasai wilayah itu, dan tetap berada di kekaisaran Mali sampai kematian Maghan III tahun 1400.
[sunting] Musa III
Pada awal tahun 1400-an, Mali masih cukup kuat untuk menaklukkan dan menetapi wilayah baru. Salah satunya adalah Dioma, wilayah di sebelah selatan Niani yang dihuni oleh Peuhl Wassoulounké.[13] Dua saudara kandung bangsawan dari Niani dari garis silsilah yang tidak diketahui, pergi ke Dioma dengan pasukan dan memukul mundur Peuhl Wassoulounké. Sérébandjougou, yang tertua di antara dua saudara itu, dimahkotai sebagai Mansa Foamed atau Mansa Musa III. Pada pemerintahan awalnya terlihat banyak kekalahan Mali. Pada tahun 1430, suku Tuareg dapat menguasai Timbuktu.[36] Tiga tahun kemudian, Oualata juga jatuh ke tangan mereka.[12]
[sunting] Ouali II
Dengan kematian Musa III, saudara kandungnya, Gbèré, menjadi kaisar pada pertengahan abad ke-15.[13] Gbèré dimahkotai sebagai Mansa Ouali II dan berkuasa selama periode perhubungan Mali dengan Portugal. Pada tahun 1450-an, Portugal mulai melancarkan serangan di sepanjang pantai Gambia.[37] Gambia masih dapat dikuasai Mali, dan ekspedisi penyerangan tersebut menemui takdir bencana sebelum Diego Gomez Portugal memulai hubungan resmi dengan Mali melalui subyek Wolof sisanya.[38] Cadomasto, pengelana Venesia, mencatat bahwa Kekaisaran Mali adalah entitas terkuat pada tahun 1454.[39]
Meskipun mereka kuat di barat, Mali kalah dalam pertempuran di utara dan timur laut. Kekaisaran Songhai yang baru menguasai Mema,[12] salah satu jajahan terlama Mali. Kekaisaran ini lalu menguasai Timbuktu dari Taureg tahun 1468 dibawah Sunni Ali Ber.[12]
[sunting] Mansa Mahmud II
Tidak diketahui kapan pastinya Mamadou menjadi Mansa Mahmud II atau yang ia turunkan dari, tetapi ia diketahui menguasai tahta pada tahun 1470-an. Kaisar lainnya, Mansa Mahan III, terkadang disebut sebagai Mansa Mahmud I, tetapi nama takhta biasanya tidak menandai hubungan darah. Kekuasaan Mansa Mahmud II memiliki karakteristik dengan lebih banyak hilangnya jajahan Mali dan meningkatnya hubungan antara Mali dan pengelana Portugal di sepanjang pantai. Pada tahun 1477, kaisar Yatenga Nasséré melakukan serangan Mossi lainnya ke Macina dan menguasainya dan provinsi lama BaGhana (Wagadou).[40] Pada tahun 1481, serangan Peuhl terhadap provinsi Tekrur Mali dimulai.
Perdagangan yang berkembang di provinsi barat Mali dengan Portugal menyaksikan pertukaran utusan antara kedua negara. Mansa Mahmud II menerima utusan Portugis, Pedro d’Evora al Gonzalo tahun 1484.[13] Mansa kehilangan kekuasaan atas Jalo selama periode ini.[41] Sementara itu, Songhai menguasai tambang garam Taghazza tahun 1493. Pada tahun yang sama, Mahmud II mengirim utusan lainnya ke Portugis dan mengusulkan persekutuan melawan Peuhl. Portugis memilih untuk tidak ikut campur dalam konflik dan membicarakan kesimpulan pada 1495 tanpa persekutuan.[41]
Tak mungkin jika Mahmud II berkuasa lebih lama daripada dekada pertama abad ke-16; namun, tidak terdapat nama penguasa selama waktu ini. Jika Mahmud II masih berada pada tahta sekitar tahun 1495 dan 1530-an, ia dapat memegang kehormatan meragukan karena kehilangan banyak jajahan selama periode imperial Mali. Pasukan Songhai dibawah komando Askia Muhammad menaklukan jendral Mali, Fati Quali tahun 1502 dan menguasai provinsi Diafunu.[12] Pada tahun 1514, dinasti Denanke didirikan di Tekrour. Tidak lama sebelum kerajaan baru Fulo Raya berperang terhadap provinsi sisa Mali. Untuk menambah luka, kekaisaran Songhai menguasai tambang tembaga di Takedda.
[sunting] Mansa Mahmud III
Mansa terakhir yang berkuasa dari Niani adalah Mansa Mahmud III, yang juga disebut sebagai Mansa Mamadou II. Seperti banyak penguasa pada periode ini, tidak jelas kapan ia mulai berkuasa. Satu-satunya tanggal yang menunjukan kekuasaannya adalah tibanya utusan Portugal tahun 1534, dan dirusaknya Niani tahun 1545. Hal ini tidak mengesampingkan naiknya ke takhta pada akhir 1520-an atau lebih awal lagi.
Pada tahun 1534, Mahmud III menerima utusan Portugis lainnya ke istana Mali dengan nama Peros Fernandes.[42] Utusan dari pelabuhan Elmina di Portugis ini tiba sebagai respon atas perkembangan perdagangan di sepanjang pantai dan permintaan mendesak Mali untuk bantuan militer melawan Songhai.[43] Namun, tidak ada bantuan datang dan Mali harus melihat jajahannya jatuh satu persatu.
Kekuasaan Mansa Mahmud III juga melihat pos militer dan provinsi Kaabu merdeka pada tahun 1537.[41] Kekaisaran Kaabu muncul seambisi Mali pada awal tahunnya dan menguasali provinsi Cassa dan Bati Mali.[44]
Momen paling menegaskan pada kekuasaan Mahmud III adalah konflik terakhir antara Mali dan Songhai tahun 1545. Pasukan Songhai dibawah saudara kandung Askia Ishaq, Daoud, menguasai Niani dan menduduki istana.[45] Mansa Mahmud III terpaksa melarikan diri dari Niani menuju pegunungan. Dalam waktu seminggu, ia berkumpul kembali dengan pasukannya dan melancarkan serangan balasan yang berhasil dan mengeluarkan Songhai dari Manden.[46] Kekaisaran Songhai tetap menyimpan ambisi Mali dalam cek, tetapi tidak pernah berhasil menguasai penuh Mali.
Setelah membebaskan ibukota, Mahmud III meninggalkannya untuk rumah baru di utara.[46] Namun, masalah-masalah Mali tetap tidak berakhir. Pada tahun 1559, kerajaan Fouta Tooro berhasil berebut Takrur.[41] Kekalahan ini mengurangi Mali ke Manden dengan kekuasaannya hanya sejauh Kita di barat, Kangaba di utara, sungai Niger di timur dan Kouroussa di selatan.
[sunting] Mali Imperial Akhir
Tidak terdapat tanggal kapan Mansa Mahmud III berakhir menguasai Mali, dengan pada tahun 1560 benar-benar hanya inti bagi Manden Kurufa. Dari 1559 sampai 1645, mansa Manden berkuasa dari Kangaba selama kemunduran akhirnya. Mansa penting selanjutnya, Mahmud IV, tidak muncul dalam catatan apapun sampai akhir abad ke-16. Namun, ia terlihat memiliki perbedaan dalam menjadi penguasa terakhir Manden. Pengikutnya disalahkan untuk perceraian Manden Kurufa ke utara, tengah dan selatan.
[sunting] Mansa Mahmud IV
Mansa Mahmud IV (juga disebut sebagai Mansa Mamadou III, Mali Mansa Mamadou dan Niani Mansa Mamadou) adalah kaisar terakhir Manden menurut Tarikh es-Sudan. Dinyatakan bahwa ia melancarkan serangan terhadap kota Djenné tahun 1599 dengan harapan sekutu Fulani mengambil keuntungan dalam kekalahan Songhai.[47] Fusilier Moroko, didistribusikan dari Timbuktu, bertemu mereka dalam pertempuran membongkar Mali dengan teknologi sama (senjata api) yang menghancurkan Songhai. Meskipun kehilangan banyak, pasukan mansa tidak terhalangi dan hampir memajukan hari.[47] Namun, pasukan didala Djenné ikut serta dan memaksa Mansa Mahmud IV dan pasukannya mundur ke Kangaba.[43]
Penguasa Kolonkan terakhir, Bata Manding Bory, dimahkotai sebagai Mansa Abubakari II pada tahun 1310.[13] Ia meneruskan gaya kekuasaan non-militan yang mengkarakterisasikan Gao dan Mohammed ibn Gao, tetapi tertarik dengan laut di sebelah barat kekaisaran. Menurut catatan yang diberi oleh Mansa Musa I, yang selama era kekuasaan Abubakari II menjadi kankoro-sigui mansa, Mali mengirim dua ekspedisi ke samudra Atlantik. Mansa Abubakari II meninggalkan Musa sebagai wali raja kekaisaran, menunjukan stabilitas yang mengagumkan selama periode ini di Mali, dan berangkat dengan ekspedisi kedua yang memerintahkan 4.000 pirogue dilengkapi dengan dayung dan layar tahun 1311.[27] Baik kaisar ataupun kapal tidak pernah kembali ke Mali. Sejarawan dan ilmuwan modern ragu-ragu mengenai keberhasilan pelayaran, tetapi catatan mengenai hal tersebut ada di catatan tertulis Afrika Utara dan catatan lisan djeli Mali.
[sunting] Garis silsilah Laye 1312-1389
Abdikasi Abubakari II tahun 1312, satu-satunya yang tercatat dalam sejarah, menandai dimulainya garis silsilah baru yang berasal dari Faga Laye.[13] Faga Laye adalah putra dari Abubakari I. Tidak seperti ayahnya, Faga Laye tidak pernah mengambil tahta Mali. Namun, garis ini akan menghasilkan tujuh mansa yang berkuasa selama puncak kekuasaan Mali dan menuju awal dari kemundurannya.
[sunting] Pemerintahan
Kekaisaran Mali mencapai luasnya yang terbesar dibawah mansa Laye. Selama periode ini, Mali terdiri dari hampir seluruh wilayah antara Gurun Sahara dan hutan pantai. Kekaisaran ini terbentang dari Samudera Atlantik sampai Niamey modern di Niger. Pada tahun 1350, kekaisaran ini memiliki luas kira-kira 439.400 kilometer persegi. Kekaisaran ini juga mencapai populasi terbesarnya selama periode Laye dengan menguasai 400 kota,[28] dan desa dari berbagai region dan etnis. Ulama pada era itu mengklaim perlu tidak kurang dari satu tahun untuk melintasi kekaisaran dari barat ke timur. Selama periode ini, hanya kekaisaran Mongolia yang wilayahnya lebih besar.
Peningkatan dramatis besar kekaisaran meminta giliran dari organisasi Manden Kurufa tiga negara bagian dengan dua belas tanah jajahan. Model ini ialah sisa oleh waktu haji Mansa Munsa ke Mesir. Menurut al'Umari, yang mewawanarai seorang Berber yang telah hidup di Niani selama 35 tahun, terdapat empat belas provinsi (kerajaan jajahan). Pada catatan al-'Umari, ia hanya mencatat tiga belas provinsi berikut.[29]
Gana (provinsi ini merujuk pada sisa Kekaisaran Ghana)
Zagun atau Zafun (nama lain dari Diafunu)[30]
Tirakka atau Turanka (Antara Gana dan Tadmekka)[31]
Tekrur (Pada cataract ketiga sungai Senegal, sebelah utara Dyolof)
Sanagana (dinamai dari suku yang hidup di wilayah ini sebelah utara sungai Senegal)
Bambuck atau Bambughu (wilayah penambangan emas)
Zargatabana
Darmura atau Babitra Darmura
Zaga (di Niger)
Kabora atau Kabura (juga di Niger)
Baraquri atau Baraghuri
Gao atau Kawkaw (provinsi yang dihuni oleh Songhai)
Mali atau Manden (ibukota provinsi yang merupakan asal nama kekaisaran)
[sunting] Musa I
Masjid Sankore.Penguasa pertama dari Laye adalah Kankan Musa, juga disebut sebagai Kango Musa. Setelah setahun lewat tanpa kabar mengenai Abubakari II, ia dimahkotai sebagai Mansa Foamed Musa. Mansa Musa adalah salah satu orang Muslim pertama yang sungguh-sungguh taat untuk menuntun Kekaisaran Mali. Ia mencoba untuk membuat agama Islam sebagai kepercayaan kaum ningrat,[12] tetapi tetap membiarkan tradisi kerajaan yang tidak memaksa populasinya. Ia juga melaksanakan perayaan Id pada akhir Ramadan. Ia dapat membaca dan menulis aksara Arab dan tertarik pada kota Timbuktu, yang digabung olehnya dengan damai tahun 1324. Melalui salah satu wanita kerajaan istananya, Munsa mengubah Sankore dari madrasah tidak resmi menjadi universitas Islam. Penelitian Islam tumbuh subur sesudah itu. Pada tahun yang sama, jendral Mandinka yang diketahui sebagai Sagmandir mengakhiri pemberontakan di Gao.[12]
Pencapaian pemahkotaan Mansa Musa adalah peziarahan terkenalnya ke Mekkah, yang dimulai pada tahun 1324 dan ia kembali pada tahun 1326. Catatan mengenai berapa banyak orang dan berapa banyak emas yang ia gunakan bervariasi. Semuanya setuju bahwa grup penjaga mansa terdiri dari pasukan yang sangat besar (mansa menyimpan pasukan penjaga sebanyak 500 orang),[32] dan ia memberikan sangat banyak sedekah dan membawa sangat banyak barang yang dihargai emas di Mesir dan timur dekat yang menurun harganya selama dua belas tahun.[33] Ketika ia melewati Kairo, sejarawan al-Maqurizi mencatat "anggota orang yang menemani mansa membeli budak wanita Turki dan Ethiopia, garmen dan wanita penyanyi, sehingga harga emas dinar turun enam dirham."
Musa sangat pemurah sehingga ia kehabisan uang dan terpaksa melelang agar dapat kembali ke rumah. Haji Musa, dan terutama emasnya, menarik perhatian dunia Islam dan Kekristenan, oleh sebab itu, Nama Mali dan Timbuktu muncul pada peta dunia abad ke-14.
Ketika sedang melakukan haji, ia bertemu penyair dan arsitek Al-Andalus, Es-Saheli. Mansa Musa membawa arsitek ini kembali ke Mali untuk mempercantik beberapa bagian kota. Masjid dibangun di Gao dan Timbuktu bersama dengan istana yang mengagumkan yang juga dibangun di Timbuktu. Pada saat kematiannya tahun 1337, Mali telah menguasai Taghazza, wilayah produsen garam di utara, yang makin memperkuat keuangannya.
Mansa Musa diteruskan oleh anaknya, Maghan I.[12] Mansa Maghan I menghabiskan uang dengan tidak berguna dan merupakan kaisar lesu pertama sejak Khalifa. Kekaisaran Mali yang dibangun oleh pendahulunya terlalu kuat untuk pemerintahan tak becusnya dan diberikan secara utuh kepada saudara kandung Musa, Souleyman tahun 1341.
[sunting] Souleyman
Mansa Souleyman mengambil pengukuran curam untuk mengembalikan bentuk finansial Mali kdan mengembangkan reputasi untuk kepelitan.[12] Namun, ia membuktikan menjadi pemimpin kuat dan baik meskipun terdapat beberapa tantangan. Selama kekuasaannya, serangan Fula di Takrur dimulai. Terdapat konspirasi istana untuk menurunkannya untuk digantikan oleh Qasa (istilah Manding yang berarti Ratu) dan beberapa komandan pasukan.[12] Jendral Mansa Souleyman berhasil menghadapi penyerangan militer ini, dan istri senior dibalik rencana ini dipenjarakan.
Sang mansa juga berhasil melaksanakan sebuah ibadah haji, melanjutkan korepondensi dengan Maroko dan Mesir dan membangun sebuah panggung dari tanah di Kangaba yang disebut Camanbolon, tempat ia beraudiensi menerima para gubernur provinsi dan menaruh Kitab-kitab Suci yang ia bawa kembali dari Hejaz.
Satu-satunya kemunduran utama kekuasaannya adalah hilangnya provinsi Dyolof Mali ke tangan Senegal. Populasi Wolof di wilayah itu disatukan ke negara mereka sendiri yang disebut sebagai Kekaisaran Jolof tahun 1350-an. Ketika Ibn Battuta tiba di Mali pada Juli 1352, ia menemukan peradaban yang berkembang besar. Mansa Souleyman meninggal pada tahun 1360 dan diteruskan oleh putranya, Camba.
[sunting] Mari Djata II
Setelah kekuasaan belaka selama sembilan bulan, Mansa Camba diturunkan oleh salah satu dari tiga putra Maghan I. Konkodougou Kamissa, dinamai dari provinsi yang pernah diperintahnya,[13] dimahkotai sebagai Mansa Mari Djata II tahun 1360. Ia berkuasa dengan menindas dan hampir membangkrutkan Mali dengan pengeluarannya yang berlimpah. Ia dapat berhubungan dengan Moroko, mengirim jerapah ke Raja Abu Hassan dari Maghreb. Mansa Mari Djata II sakit pada tahun 1372,[12] dan kekuasaan berpindah ke tangan menterinya sampai kematiannya tahun 1374.
[sunting] Musa II
Era kehancuran Mari Djata II meninggalkan kekaisaran dalam keadaan finansial yang buruk, tetapi kekaisaran ini diserahkan kepada saudara kandung kaisar yang sudah meninggal. Mansa Fadima Musa atau Mansa Musa II, memulai proses pengembalian kewalahan saudara kandungnya.[12] Ia tidak melakukannya; namun, pengadaan kekuasaan mansa sebelumnya karena pengaruh kankoro-siguinya.
Kankoro-Sigui Mari Djata, yang tidak berhubungan dengan klan Keita, menjalankan kekaisaran dibawah kaedah Musa II. Ia memadamkan pemberontakan Taureg di Takedda dan berkampanye di Gao. Sementara ia berhasil di Tahkedda, ia tidak pernah menang di Gao. Pemukiman Songhai dengan efektif mengguncang kekuasaan Mali tahun 1375. Pada saat kematian Mansa Musa II tahun 1387, Mali secara finansial mampu membayar hutang dan memegang semua penaklukan Gao dan Dyolof sebelumnya. Empat puluh tahun setelah kekuasaan Mansa Musa I, kekaisaran Mali masih menguasai 1.1 juta meter wilayah di sepanjang Afrika Barat.[34]
[sunting] Maghan II
Anak terakhir Maghan I, Tenin Maghan (juga disebut sebagai Kita Tenin Maghan untuk provinsi yang pernah ia perintah) dimahkotai sebagai Mansa Maghan II tahun 1387.[13] Sedikit yang diketahui tentangnya kecuali bahwa ia berkuasa selama dua tahun. Ia diturunkahn tahun 1389 yang menandai berakhirnya era mansa Faga Laye.
[sunting] Garis silsilah gelap 1389-1545
Dari tahun 1389, Mali akan memperoleh mansa yang asal usulnya gelap. Periode ini merupakan periode yang paling sedikit diketahui dalam sejarah kerajaan Mali. Apa yang nampak adalah bahwa tidak ada garis silsilah mantap yang memerintah kekaisaran. Karakteristik lain era ini adalah hilangnya wilayah utara dan timur dengan bangkitnya kekaisaran Songhai dan fokus terhadap ekonomi Mali dari rute perdagangan trans-sahara sampai perdagangan sepanjang pantai yang berkembang.
[sunting] Maghan III
Mansa Sandaki, keturunan Kankoro-Sigui Mari Djata, menurunkan Maghan II dan menjadi orang pertama tanpa hubungan dengan dinasti Keita yang secara resmi berkuasa di Mali.[12] Ia hanya akan berkuasa setahun sebelum keturunan Mansa Gao menurunkannya.[35] Mahmud, yang mungkin cucu atau anak cucu dari Mansa Gao, dimahkotai sebagai Mansa Maghan III tahun 1390. Selama kekuasaannya, kaisar Mossi, Bonga dari Yatenga menyerang Mali dan menghancurkan Macina.[12] Kaisar Bonga tidak terlihat menguasai wilayah itu, dan tetap berada di kekaisaran Mali sampai kematian Maghan III tahun 1400.
[sunting] Musa III
Pada awal tahun 1400-an, Mali masih cukup kuat untuk menaklukkan dan menetapi wilayah baru. Salah satunya adalah Dioma, wilayah di sebelah selatan Niani yang dihuni oleh Peuhl Wassoulounké.[13] Dua saudara kandung bangsawan dari Niani dari garis silsilah yang tidak diketahui, pergi ke Dioma dengan pasukan dan memukul mundur Peuhl Wassoulounké. Sérébandjougou, yang tertua di antara dua saudara itu, dimahkotai sebagai Mansa Foamed atau Mansa Musa III. Pada pemerintahan awalnya terlihat banyak kekalahan Mali. Pada tahun 1430, suku Tuareg dapat menguasai Timbuktu.[36] Tiga tahun kemudian, Oualata juga jatuh ke tangan mereka.[12]
[sunting] Ouali II
Dengan kematian Musa III, saudara kandungnya, Gbèré, menjadi kaisar pada pertengahan abad ke-15.[13] Gbèré dimahkotai sebagai Mansa Ouali II dan berkuasa selama periode perhubungan Mali dengan Portugal. Pada tahun 1450-an, Portugal mulai melancarkan serangan di sepanjang pantai Gambia.[37] Gambia masih dapat dikuasai Mali, dan ekspedisi penyerangan tersebut menemui takdir bencana sebelum Diego Gomez Portugal memulai hubungan resmi dengan Mali melalui subyek Wolof sisanya.[38] Cadomasto, pengelana Venesia, mencatat bahwa Kekaisaran Mali adalah entitas terkuat pada tahun 1454.[39]
Meskipun mereka kuat di barat, Mali kalah dalam pertempuran di utara dan timur laut. Kekaisaran Songhai yang baru menguasai Mema,[12] salah satu jajahan terlama Mali. Kekaisaran ini lalu menguasai Timbuktu dari Taureg tahun 1468 dibawah Sunni Ali Ber.[12]
[sunting] Mansa Mahmud II
Tidak diketahui kapan pastinya Mamadou menjadi Mansa Mahmud II atau yang ia turunkan dari, tetapi ia diketahui menguasai tahta pada tahun 1470-an. Kaisar lainnya, Mansa Mahan III, terkadang disebut sebagai Mansa Mahmud I, tetapi nama takhta biasanya tidak menandai hubungan darah. Kekuasaan Mansa Mahmud II memiliki karakteristik dengan lebih banyak hilangnya jajahan Mali dan meningkatnya hubungan antara Mali dan pengelana Portugal di sepanjang pantai. Pada tahun 1477, kaisar Yatenga Nasséré melakukan serangan Mossi lainnya ke Macina dan menguasainya dan provinsi lama BaGhana (Wagadou).[40] Pada tahun 1481, serangan Peuhl terhadap provinsi Tekrur Mali dimulai.
Perdagangan yang berkembang di provinsi barat Mali dengan Portugal menyaksikan pertukaran utusan antara kedua negara. Mansa Mahmud II menerima utusan Portugis, Pedro d’Evora al Gonzalo tahun 1484.[13] Mansa kehilangan kekuasaan atas Jalo selama periode ini.[41] Sementara itu, Songhai menguasai tambang garam Taghazza tahun 1493. Pada tahun yang sama, Mahmud II mengirim utusan lainnya ke Portugis dan mengusulkan persekutuan melawan Peuhl. Portugis memilih untuk tidak ikut campur dalam konflik dan membicarakan kesimpulan pada 1495 tanpa persekutuan.[41]
Tak mungkin jika Mahmud II berkuasa lebih lama daripada dekada pertama abad ke-16; namun, tidak terdapat nama penguasa selama waktu ini. Jika Mahmud II masih berada pada tahta sekitar tahun 1495 dan 1530-an, ia dapat memegang kehormatan meragukan karena kehilangan banyak jajahan selama periode imperial Mali. Pasukan Songhai dibawah komando Askia Muhammad menaklukan jendral Mali, Fati Quali tahun 1502 dan menguasai provinsi Diafunu.[12] Pada tahun 1514, dinasti Denanke didirikan di Tekrour. Tidak lama sebelum kerajaan baru Fulo Raya berperang terhadap provinsi sisa Mali. Untuk menambah luka, kekaisaran Songhai menguasai tambang tembaga di Takedda.
[sunting] Mansa Mahmud III
Mansa terakhir yang berkuasa dari Niani adalah Mansa Mahmud III, yang juga disebut sebagai Mansa Mamadou II. Seperti banyak penguasa pada periode ini, tidak jelas kapan ia mulai berkuasa. Satu-satunya tanggal yang menunjukan kekuasaannya adalah tibanya utusan Portugal tahun 1534, dan dirusaknya Niani tahun 1545. Hal ini tidak mengesampingkan naiknya ke takhta pada akhir 1520-an atau lebih awal lagi.
Pada tahun 1534, Mahmud III menerima utusan Portugis lainnya ke istana Mali dengan nama Peros Fernandes.[42] Utusan dari pelabuhan Elmina di Portugis ini tiba sebagai respon atas perkembangan perdagangan di sepanjang pantai dan permintaan mendesak Mali untuk bantuan militer melawan Songhai.[43] Namun, tidak ada bantuan datang dan Mali harus melihat jajahannya jatuh satu persatu.
Kekuasaan Mansa Mahmud III juga melihat pos militer dan provinsi Kaabu merdeka pada tahun 1537.[41] Kekaisaran Kaabu muncul seambisi Mali pada awal tahunnya dan menguasali provinsi Cassa dan Bati Mali.[44]
Momen paling menegaskan pada kekuasaan Mahmud III adalah konflik terakhir antara Mali dan Songhai tahun 1545. Pasukan Songhai dibawah saudara kandung Askia Ishaq, Daoud, menguasai Niani dan menduduki istana.[45] Mansa Mahmud III terpaksa melarikan diri dari Niani menuju pegunungan. Dalam waktu seminggu, ia berkumpul kembali dengan pasukannya dan melancarkan serangan balasan yang berhasil dan mengeluarkan Songhai dari Manden.[46] Kekaisaran Songhai tetap menyimpan ambisi Mali dalam cek, tetapi tidak pernah berhasil menguasai penuh Mali.
Setelah membebaskan ibukota, Mahmud III meninggalkannya untuk rumah baru di utara.[46] Namun, masalah-masalah Mali tetap tidak berakhir. Pada tahun 1559, kerajaan Fouta Tooro berhasil berebut Takrur.[41] Kekalahan ini mengurangi Mali ke Manden dengan kekuasaannya hanya sejauh Kita di barat, Kangaba di utara, sungai Niger di timur dan Kouroussa di selatan.
[sunting] Mali Imperial Akhir
Tidak terdapat tanggal kapan Mansa Mahmud III berakhir menguasai Mali, dengan pada tahun 1560 benar-benar hanya inti bagi Manden Kurufa. Dari 1559 sampai 1645, mansa Manden berkuasa dari Kangaba selama kemunduran akhirnya. Mansa penting selanjutnya, Mahmud IV, tidak muncul dalam catatan apapun sampai akhir abad ke-16. Namun, ia terlihat memiliki perbedaan dalam menjadi penguasa terakhir Manden. Pengikutnya disalahkan untuk perceraian Manden Kurufa ke utara, tengah dan selatan.
[sunting] Mansa Mahmud IV
Mansa Mahmud IV (juga disebut sebagai Mansa Mamadou III, Mali Mansa Mamadou dan Niani Mansa Mamadou) adalah kaisar terakhir Manden menurut Tarikh es-Sudan. Dinyatakan bahwa ia melancarkan serangan terhadap kota Djenné tahun 1599 dengan harapan sekutu Fulani mengambil keuntungan dalam kekalahan Songhai.[47] Fusilier Moroko, didistribusikan dari Timbuktu, bertemu mereka dalam pertempuran membongkar Mali dengan teknologi sama (senjata api) yang menghancurkan Songhai. Meskipun kehilangan banyak, pasukan mansa tidak terhalangi dan hampir memajukan hari.[47] Namun, pasukan didala Djenné ikut serta dan memaksa Mansa Mahmud IV dan pasukannya mundur ke Kangaba.[43]

0 Ulasan:
Catat Ulasan
Langgan Catat Ulasan [Atom]
<< Laman utama