Manden
Manden adalah daerah tempat Kekaisaran Mali bermula dan berkembang[4] . Nama Manden diperoleh dari penduduknya masa itu yang dijuluki Mandinka (Manden’ka dengan “ka” berarti orang),[5] yang terdiri dari Guinea utara dan Mali selatan modern. Kekaisaran ini pada mulanya berdiri sebagai federasi Mandinka yang disebut Manden Kurufa (secara harfiah berarti Federasi Manden), tetapi federasi ini kemudian berkembang menjadi kekaisaran yang memerintah jutaan orang yang berasal dari hampir semua grup etnis yang mungkin terdapat di Afrika Barat.
[sunting] Etimologi
Asal usul penamaan kekaisaran Mali masih diperdebatkan dalam lingkaran ilmiah di seluruh dunia. Meskipun nama “Mali” masih diperdebatkan, tidak ada keraguan tentang proses nama tersebut memasuki kosakata regional. Seperti yang disebut di atas ini, bangsa Mandinka pada abad pertengahan merujuk kepada kampung halaman etnis mereka sebagai “Manden”.[4]
Di antara banyak grup etnis yang berbeda yang mengelilingi Manden terdapat grup penutur Bahasa Pulaar di Macina, Tekrur dan Fouta Djallon. Dalam bahasa Pulaar, Mandinka dari Manden menjadi Malinke dari Mali.[6] Meskipun orang Mandinka umumnya merujuk tanah dan ibukota provinsi mereka sebagai Manden, Fulan, kawula Mali yang semi-nomadik yang tinggal di sebelah barat wilayah tengah negara (Tekrur), selatan (Fouta Djallon) dan perbatasan timur (Macina) mempopulerkan nama Mali untuk kerajaan ini (yang kemudian menjadi kekaisaran) pada Abad Pertengahan.
[sunting] Mali pra-imperial
Kerajaan Mandinka di Mali atau Manden telah eksis beberapa abad sebelum unifikasi Sundiata sebagai negara kecil di selatan kekaisaran Soninké di Wagadou. Kekaisaran Soninke ini lebih dikenal sebagai kekaisaran Ghana.[7] Wilayah ini terdiri dari pegunungan, sabana, dan hutan yang menyediakan perlindungan dan sumber daya ideal bagi populasi pemburu.[8] Penduduk yang tidak tinggal di pegunungan membentuk negara-kota kecil seperti Toron, Ka-Ba dan Niani. Hampir setiap kaisar Mali dari Dinasti Keita melacak garis silsilahnya kembali ke Bilal,[9] muadin nabi Islam, Muhammad. Selama abad pertengahan, terdapat kebiasaan bagi penguasa Kristen dan Muslim untuk merunut garis darah mereka ke figur yang sangat penting dalam sejarah. Meskipun garis silsilah dinasti Keita meragukan, masing-masing para juru pencatat kejadian lisan menyediakan daftar penguasa Keita dari Lawalo (menurut dugaan salah satu dari tujuh anak Bilal yang menetap di Mali) sampai Maghan Kon Fatta (ayah Sundiata Keita).
[sunting] Provinsi Kangaba
Selama puncak kekuasaan Wagadou, tanah Manden menjadi salah satu provinsinya.[10] Negara-kota Manden di Ka-ba (Kangaba modern) menjadi ibukota dan nama provinsi ini. Selama awal abad ke-11, raja-raja Mandinka yang disebut dengan gelar faama menguasai Manden dari Ka-ba dalam nama Ghana.[11]
[sunting] Dua belas kerajaan
Kekuasaan Wagadou terhadap Manden terhalang akibat perang selama 14 tahun melawan Murabitun, orang-orang Muslim yang kebanyakan keturunan Berber dari Afrika Utara. Jendral Murabitun, Abu Bekr menaklukkan dan membumihanguskan ibukota Wagadou, Kumbi Saleh tahun 1076 dan mengakhiri dominasinya terhadap wilayah ini.[12] Namun, Murabitun tidak dapat mempertahankan wilayah ini, yang dengan cepat direbut kembali oleh Soninké yang telah melemah. Provinsi Kangaba yang bebas dari pengaruh Soninké dan Berber, menyerpih menjadi dua belas kerajaan dengan maghan (berarti pangeran) atau faama sendiri.[13] Manden terbagi dua dengan wilayah Dodougou di timur laut dan wilayah Kri di barat daya.[14]Kerajaan kecil Niani adalah satu dari beberapa wilayah Kri di Manden.
[sunting] Penguasa Kaniaga
Kira-kira pada tahun 1140, kerajaanSosso di Kaniaga, bekas vazal (negara yang berdaulat dibawah negara) Wagadou, mulai menaklukkan wilayah penguasa lamanya. Pada tahun 1180, Sosso bahkan telah menundukkan Wagadou, memaksa Soninké membayar upeti. Pada tahun 1203, raja Sosso, Soumaoro, dari klan Kanté naik tahta dan dilaporkan meneror Manden dengan mencuri wanita dan harta benda baik dari Dodougou dan Kri.[15]
[sunting] Pangeran Singa
Selama bangkitnya Kaniaga, Sundiata dari klan Keita lahir sekitar tahun 1217. Ia adalah anak dari faama Niani, Nare Fa (juga diketahui sebagai Maghan Kon Fatta yang berarti pangeran tampan). Ibu Sundiata adalah istri kedua Maghan Kon Fatta, Sogolon Kédjou.[9] Wanita ini adalah orang bungkuk dari negeri Do, selatan Mali. Anak dari pernikahannya menerima nama pertama ibunya (Sogolon) dan nama keluarga ayahnya (Djata). Dalam bahasa sehari-hari Mandinka yang diucapkan dengan cepat, namanya kemudian menjadi Sondjata atau Sundjata.[9] Versi bahasa Inggris nama ini, Sundiata, juga populer.
Maghan Sundiata diramalkan akan menjadi penakluk besar. Orangtuanya takut karena pangeran tidak memiliki masa kecil yang menjanjikan. Maghan Sundiata, menurut tradisi lisan, tidak dapat berjalan sampai ia berusia tujuh tahun.[13] Namun, ketika Sundiata dapat menggunakan kakinya, ia menjadi kuat dan sangat dihormati. Hal ini tidak terjadi sebelum ayahnya meninggal. Meskipun faama Niani berharap untuk menghormati ramalan dan memahkotai Sundiata, anak dari istri pertamanya Sassouma Bérété dimahkotai. Segera anak Sassouma Dankaran Touman mengambil alih tahta, ia dan ibunya memaksa Sundiata yang kepopulerannya meningkat dibuang bersama dengan ibunya dan dua saudara kandung perempuannya. Sebelum Dankaran Touman dan ibunya dapat menikmati kekuatan mereka yang tidak terhalangi, Raja Soumaoro mencapai Niani dan memaksa Dankaran meninggalkan Kissidougou.[9]
Setelah bertahun-tahun dalam pembuangan, pertama di istana Wagadou dan kemudian di Mema, Sundiata dicari oleh delegasi Niani dan diminta untuk mengalahkan Sosso dan membebaskan kerajaan Manden selamanya.
[sunting] Pertempuran Kirina
Setelah kembali dengan angkatan bersenjata gabungan Mema, Wagadou, dan semua negara-kota Mandinka yang melawan, Maghan Sundiata memimpin revolusi melawan kerajaan Kaniaga sekitar tahun 1234. Pasukan gabungan Manden utara dan selatan menaklukan angkatan bersenjata Sosso dalam pertempuran Kirina (nantinya dikenal sebagai Krina) kira-kira tahun 1235.[13] Kemenangan ini membuat jatuhnya kerajaan Kaniaga dan bangkitnya kekaisaran Mali. Setelah kemenangan, raja Soumaoro menghilang, dan Mandinka memasuki kota terakhir Sosso. Maghan Sundiata ditetapkan sebagai “faama dari semua faama” dan menerima gelar “mansa”, yang secara kasar dapat diterjemahkan sebagai kaisar. Pada usia 18 tahun, ia menerima kekuasaan terhadap seluruh duabelas kerajaan pada persekutuan yang diketahui sebagai Manden Kurufa. Ia dimahkotai dengan nama Mari Djata dan menjadi kaisar Mandinka pertama.[13]
[sunting] Organisasi
Manden Kurufa yang didirikan oleh Mari Djata I terdari dari “tiga negara bebas yang bersekutu" di Mali, Mema dan Wagadou ditambah Dua Belas Pintu Mali.[9] Penting untuk diingat bahwa Mali, merujuk pada negara-kota di Niani.
Dua Belas Pintu Mali adalah koalisi wilayah yang ditaklukkan atau wilayah sekutu, kebanyakan di Manden, yang bersumpah setia kepada Sundiata dan keturunannya. Dengan menikamkan tombak mereka ke dalam tanah di depan tahta Sundiata, kedua belas raja melepaskan kerajaannya kepada dinasti Keita.[9] Sebagai imbalan terhadap kesetiaan mereka, mereka diangkat menjadi “farbas”, kombinasi kata-kata Mandinka, "farin" dan "ba" (farin besar).[16] Farin adalah istilah umum untuk komandan utara pada saat itu. Farbas tersebut menguasai kerajaan lama mereka atas nama mansa dengan mempertahankan sebagian besar wewenang yang mereka pegang sebelum memilih bergabung dengan Manden Kurufa.
[sunting] Dewan Besar
Dewan Besar atau Gbara akan menjadi badan musyawarah Mandinka sampai runtuhnya Manden Kurufa tahun 1645. Pada pertemuan pertamanya, di Kouroukan Fouga (Divisi Dunia), terdapat 29 delegasi klan diketuai oleh belen-tigui (tuan upacara). Bentuk terakhir Gbara, menurut tradisi Guinea utara yang ada, terdiri aas 32 posisi yang diduduki oleh 28 klan.[17]
[sunting] Reformasi sosial, ekonomi dan pemerintahan
Kouroukan Fouga juga melakukan reformasi sosial dan politik dengan larangan terhadap penyiksaan tahanan dan budak, memasukkan wanita ke dalam pemerintahan dan menempatkan sistem olok-olok antara klan yang dengan jelas menyatakan siapa yang menyatakan tentang apa pada siapa. Sundiata juga membagi tanah di antara rakyatnya, memastikan semua orang memiliki tempat di kekaisaran dan memperbaiki nilai tukar untuk produk.
[sunting] Mari Djata I
Mansa Mari Djata mengawasi penaklukan dan penggabungan beberapa tokoh lokal penting di kekaisaran Mali. Ketika kampanye selesai, kekaisarannya terbentang 1.000 mil dari timur ke barat dengan perbatasan itu adalah tikungan Sungai Senegal dan Sungai Niger.[18] Setelah menyatukan Manden, ia menambah ladang emas Wangara yang menjadi perbatasan selatan. Kota perdagangan utara Oualata dan Audaghost juga ditaklukkan dan menjadi bagian dari perbatasan utara negara baru. Wagadou dan Mema menjadi sekutu junior pada kerajaan dan bagian dari inti imperium. Wilayah Bambougou, Jalo (Fouta Djallon), dan Kaabu berturut-turut dimasukkan kedalam Mali oleh Fakoli Koroma,[13] Fran Kamara, dan Tiramakhan Traore,[19] .
[sunting] Mali Imperial
Masjid Djenné.Terdapat 21 mansa kekaisaran Mali yang diketahui setelah Mari Djata I dan sekitar dua atau tiga lainnya yang masih harus diungkapkan. Nama pemimpin tersebut muncul dalam sejarah melalui djeli dan keturunan modern dinasti Keita di Kangaba. Yang membedakan para penguasa tersebut dari sang pendiri, selain dari peran sejarah dalam mendirikan negara, adalah transformasi Manden Kurufa menjadi kekaisaran Manden. Tidak puas hanya menguasai kawula Manding saja yang disatukan oleh kemenangan Mari Djata I, para mansa tersebut juga kemudian menaklukkan dan mencaplok Bangsa Peuhl, Wolof, Serer, Bamana, Songhai, Tuareg, dan bangsa-bangsa lain ke dalam sebuah kekaisaran yang besar.
[sunting] Garis keturunan Djata 1250-1275
Tiga penerus pertama Mari Djata semuanya mengklaim dengan hak darah atau sesuatu yang dekat dengannya. Pada periode 25 tahun in terlihat pendapatan luar biasa untuk para mansa dan awal persaingan internal sengit yang hampir mengakhiri kekaisaran.
[sunting] Ouali I
Setelah kematian Mari Djata tahun 1255, adat menentukan bahwa anak lelakinya naik tahta dengan mengasumsikan bahwa dia sudah cukup umur. Namun, Yérélinkon masih kecil ketika ayahnya mangkat.[20] Manding Bory, saudara tiri Mari Djata dan kankoro-sigui (wazir atau perdana menteri), seharusnya dinobatkan menurut Kouroukan Fouga. Anak laki-laki Mari Djata menguasai tahta dan dimahkotai sebagai Mansa Ouali (juga diucapkan “Wali”).
Mansa Ouali ternyata adalah kaisar yang baik dengan menambah kekuasaan kekaisaran Mali, termasuk provinsi Bati dan Casa di Gambia. Ia juga menguasai provinsi Bambuk dan Bondou yang memproduksi emas. Provinsi tengah Konkodougou didirikan. Kerajaan Songhai di Gao juga ditaklukan untuk pertama kalinya dalam periode ini. [12]
Selain penaklukan militer, Ouali juga melakukan reformasi pertanian terhadap kekaisaran dengan mempekerjakan pasukan menjadi petani di provinsi Gambia yang baru direbut. Tepat sebelum kematiannya tahun 1270, Ouali melaksanakan haji ke Mekkah untuk menguatkan hubungan dengan pedagang Afrika Utara dan Muslim. [12]
[sunting] Putra Jendral
Sebagai kebijakan mengendalikan dan memberi penghargaan jenderalnya, Mari Djata mengadopsi anak lelaki mereka. [13] Anak-anak tersebut diasuh di istana mansa dan menjadi keita ketika dewasa. Karena melihat tahta sebagai hak mereka, dua anak Mari Djata yang diadopsi saling berperang antara satu dengan yang lainnya. Perang ini hampir menghancurkan apa yang dibangun oleh dua mansa pertama. Anak pertama yang menguasai tahta adalah Mansa Ouati (juga disebut “Wati) tahun 1270.[21] Menurut djeli, ia berkuasa selama empat tahun. Ia adalah orang yang boros dan berkuasa dengan kejam. Dengan kematiannya tahun 1274, anak angkat lainnya menguasai tahta.[21] Mansa Khalifa diingat sebagai penguasa yang lebih buruk dari Ouati. Ia memerintah sama buruknya dan dilaporkan menembakan panah ke orang yang lewat dari atap istananya. Ia dibunuh, kemungkinan atas perintah Gbara, dan digantikan oleh Manding Bory tahun 1275.[22]
[sunting] Mansa Kerajaan 1275-1300
Setelah kekacauan pada masa kekuasaan Ouali dan Khalifa, beberapa pejabat istana yang memiliki hubungan dekat dengan Mari Djata berkuasa (atau memerintah). Mereka mulai mengembalikan keanggunan kekaisaran Mali dan menyiapkannya untuk sebuah zaman keemasan para pemimpinnya.
[sunting] Abubakari I
Manding Bory dimahkotai dengan nama Mansa Abubakari (bentuk Manding dari nama Muslim, Abu Bakr).[13] Ibu Mansa Abubakari adalah Namandjé,[13] istri ketiga Maghan Kon Fatta. Sebelum menjadi mansa, Abubakari menjadi salah satu jendral saudara lelakinya dan nantinya menjadi kankoro-sigui saudara laki-lakinya. Sedikit yang diketahui mengenai kekuasaan Abubakari I, tetapi ia berhasil menghentikan berkurangnya kekayaan Mali.
[sunting] Sakoura
Pada tahun 1285, seorang budak istana dibebaskan oleh Mari Djata yang juga telah menjabat sebagai seorang jenderal yang merebut takhta Mali.[12] Kekuasaan Mansa Sakoura (juga diucapkan Sakura) bermanfaat meskipun terdapat gonjang-ganjing politik. Ia menambah penaklukan pertama Mali sejak kekuasaan Ouali termasuk provinsi Tekrour dan Diara, bekas provinsi Wagadou. Penaklukannya tidak berhenti pada batas Wagadou saja. Ia berkampanye ke Senegal dan menguasai provinsi Wolof milik Dyolof dan lalu pergi ke timur untuk menguasai wilayah Takedda yang merupakan produsen tembaga. Ia juga menaklukan Macina dan menyerang Gao untuk menekan pemberontakan pertama melawan Mali.[12] Mansa Sakoura lebih dari hanya seorang prajurit belaka. Ia melaksanakan haji dan membuka negosiasi perdagangan langsung dengan Tripoli dan Moroko.[12]
Mansa Sakoura dibunuh ketika kembali dari Mekkah di atau sekitar Djibouti sekarang oleh pasukan Danakil yang mencoba merampoknya.[23] Pembantu kaisar membawa tubuhnya kembali melalu wilayah Ouaddai dan ke Kanem, tempat salah satu utusan kekaisaran yang dikirim ke Mali dengan berita kematian Sakoura. Ketika tubuhnya tiba di Niani, ia dimakamkan secara agung meskipun ia memiliki akar budak.[23]
Manden adalah daerah tempat Kekaisaran Mali bermula dan berkembang[4] . Nama Manden diperoleh dari penduduknya masa itu yang dijuluki Mandinka (Manden’ka dengan “ka” berarti orang),[5] yang terdiri dari Guinea utara dan Mali selatan modern. Kekaisaran ini pada mulanya berdiri sebagai federasi Mandinka yang disebut Manden Kurufa (secara harfiah berarti Federasi Manden), tetapi federasi ini kemudian berkembang menjadi kekaisaran yang memerintah jutaan orang yang berasal dari hampir semua grup etnis yang mungkin terdapat di Afrika Barat.
[sunting] Etimologi
Asal usul penamaan kekaisaran Mali masih diperdebatkan dalam lingkaran ilmiah di seluruh dunia. Meskipun nama “Mali” masih diperdebatkan, tidak ada keraguan tentang proses nama tersebut memasuki kosakata regional. Seperti yang disebut di atas ini, bangsa Mandinka pada abad pertengahan merujuk kepada kampung halaman etnis mereka sebagai “Manden”.[4]
Di antara banyak grup etnis yang berbeda yang mengelilingi Manden terdapat grup penutur Bahasa Pulaar di Macina, Tekrur dan Fouta Djallon. Dalam bahasa Pulaar, Mandinka dari Manden menjadi Malinke dari Mali.[6] Meskipun orang Mandinka umumnya merujuk tanah dan ibukota provinsi mereka sebagai Manden, Fulan, kawula Mali yang semi-nomadik yang tinggal di sebelah barat wilayah tengah negara (Tekrur), selatan (Fouta Djallon) dan perbatasan timur (Macina) mempopulerkan nama Mali untuk kerajaan ini (yang kemudian menjadi kekaisaran) pada Abad Pertengahan.
[sunting] Mali pra-imperial
Kerajaan Mandinka di Mali atau Manden telah eksis beberapa abad sebelum unifikasi Sundiata sebagai negara kecil di selatan kekaisaran Soninké di Wagadou. Kekaisaran Soninke ini lebih dikenal sebagai kekaisaran Ghana.[7] Wilayah ini terdiri dari pegunungan, sabana, dan hutan yang menyediakan perlindungan dan sumber daya ideal bagi populasi pemburu.[8] Penduduk yang tidak tinggal di pegunungan membentuk negara-kota kecil seperti Toron, Ka-Ba dan Niani. Hampir setiap kaisar Mali dari Dinasti Keita melacak garis silsilahnya kembali ke Bilal,[9] muadin nabi Islam, Muhammad. Selama abad pertengahan, terdapat kebiasaan bagi penguasa Kristen dan Muslim untuk merunut garis darah mereka ke figur yang sangat penting dalam sejarah. Meskipun garis silsilah dinasti Keita meragukan, masing-masing para juru pencatat kejadian lisan menyediakan daftar penguasa Keita dari Lawalo (menurut dugaan salah satu dari tujuh anak Bilal yang menetap di Mali) sampai Maghan Kon Fatta (ayah Sundiata Keita).
[sunting] Provinsi Kangaba
Selama puncak kekuasaan Wagadou, tanah Manden menjadi salah satu provinsinya.[10] Negara-kota Manden di Ka-ba (Kangaba modern) menjadi ibukota dan nama provinsi ini. Selama awal abad ke-11, raja-raja Mandinka yang disebut dengan gelar faama menguasai Manden dari Ka-ba dalam nama Ghana.[11]
[sunting] Dua belas kerajaan
Kekuasaan Wagadou terhadap Manden terhalang akibat perang selama 14 tahun melawan Murabitun, orang-orang Muslim yang kebanyakan keturunan Berber dari Afrika Utara. Jendral Murabitun, Abu Bekr menaklukkan dan membumihanguskan ibukota Wagadou, Kumbi Saleh tahun 1076 dan mengakhiri dominasinya terhadap wilayah ini.[12] Namun, Murabitun tidak dapat mempertahankan wilayah ini, yang dengan cepat direbut kembali oleh Soninké yang telah melemah. Provinsi Kangaba yang bebas dari pengaruh Soninké dan Berber, menyerpih menjadi dua belas kerajaan dengan maghan (berarti pangeran) atau faama sendiri.[13] Manden terbagi dua dengan wilayah Dodougou di timur laut dan wilayah Kri di barat daya.[14]Kerajaan kecil Niani adalah satu dari beberapa wilayah Kri di Manden.
[sunting] Penguasa Kaniaga
Kira-kira pada tahun 1140, kerajaanSosso di Kaniaga, bekas vazal (negara yang berdaulat dibawah negara) Wagadou, mulai menaklukkan wilayah penguasa lamanya. Pada tahun 1180, Sosso bahkan telah menundukkan Wagadou, memaksa Soninké membayar upeti. Pada tahun 1203, raja Sosso, Soumaoro, dari klan Kanté naik tahta dan dilaporkan meneror Manden dengan mencuri wanita dan harta benda baik dari Dodougou dan Kri.[15]
[sunting] Pangeran Singa
Selama bangkitnya Kaniaga, Sundiata dari klan Keita lahir sekitar tahun 1217. Ia adalah anak dari faama Niani, Nare Fa (juga diketahui sebagai Maghan Kon Fatta yang berarti pangeran tampan). Ibu Sundiata adalah istri kedua Maghan Kon Fatta, Sogolon Kédjou.[9] Wanita ini adalah orang bungkuk dari negeri Do, selatan Mali. Anak dari pernikahannya menerima nama pertama ibunya (Sogolon) dan nama keluarga ayahnya (Djata). Dalam bahasa sehari-hari Mandinka yang diucapkan dengan cepat, namanya kemudian menjadi Sondjata atau Sundjata.[9] Versi bahasa Inggris nama ini, Sundiata, juga populer.
Maghan Sundiata diramalkan akan menjadi penakluk besar. Orangtuanya takut karena pangeran tidak memiliki masa kecil yang menjanjikan. Maghan Sundiata, menurut tradisi lisan, tidak dapat berjalan sampai ia berusia tujuh tahun.[13] Namun, ketika Sundiata dapat menggunakan kakinya, ia menjadi kuat dan sangat dihormati. Hal ini tidak terjadi sebelum ayahnya meninggal. Meskipun faama Niani berharap untuk menghormati ramalan dan memahkotai Sundiata, anak dari istri pertamanya Sassouma Bérété dimahkotai. Segera anak Sassouma Dankaran Touman mengambil alih tahta, ia dan ibunya memaksa Sundiata yang kepopulerannya meningkat dibuang bersama dengan ibunya dan dua saudara kandung perempuannya. Sebelum Dankaran Touman dan ibunya dapat menikmati kekuatan mereka yang tidak terhalangi, Raja Soumaoro mencapai Niani dan memaksa Dankaran meninggalkan Kissidougou.[9]
Setelah bertahun-tahun dalam pembuangan, pertama di istana Wagadou dan kemudian di Mema, Sundiata dicari oleh delegasi Niani dan diminta untuk mengalahkan Sosso dan membebaskan kerajaan Manden selamanya.
[sunting] Pertempuran Kirina
Setelah kembali dengan angkatan bersenjata gabungan Mema, Wagadou, dan semua negara-kota Mandinka yang melawan, Maghan Sundiata memimpin revolusi melawan kerajaan Kaniaga sekitar tahun 1234. Pasukan gabungan Manden utara dan selatan menaklukan angkatan bersenjata Sosso dalam pertempuran Kirina (nantinya dikenal sebagai Krina) kira-kira tahun 1235.[13] Kemenangan ini membuat jatuhnya kerajaan Kaniaga dan bangkitnya kekaisaran Mali. Setelah kemenangan, raja Soumaoro menghilang, dan Mandinka memasuki kota terakhir Sosso. Maghan Sundiata ditetapkan sebagai “faama dari semua faama” dan menerima gelar “mansa”, yang secara kasar dapat diterjemahkan sebagai kaisar. Pada usia 18 tahun, ia menerima kekuasaan terhadap seluruh duabelas kerajaan pada persekutuan yang diketahui sebagai Manden Kurufa. Ia dimahkotai dengan nama Mari Djata dan menjadi kaisar Mandinka pertama.[13]
[sunting] Organisasi
Manden Kurufa yang didirikan oleh Mari Djata I terdari dari “tiga negara bebas yang bersekutu" di Mali, Mema dan Wagadou ditambah Dua Belas Pintu Mali.[9] Penting untuk diingat bahwa Mali, merujuk pada negara-kota di Niani.
Dua Belas Pintu Mali adalah koalisi wilayah yang ditaklukkan atau wilayah sekutu, kebanyakan di Manden, yang bersumpah setia kepada Sundiata dan keturunannya. Dengan menikamkan tombak mereka ke dalam tanah di depan tahta Sundiata, kedua belas raja melepaskan kerajaannya kepada dinasti Keita.[9] Sebagai imbalan terhadap kesetiaan mereka, mereka diangkat menjadi “farbas”, kombinasi kata-kata Mandinka, "farin" dan "ba" (farin besar).[16] Farin adalah istilah umum untuk komandan utara pada saat itu. Farbas tersebut menguasai kerajaan lama mereka atas nama mansa dengan mempertahankan sebagian besar wewenang yang mereka pegang sebelum memilih bergabung dengan Manden Kurufa.
[sunting] Dewan Besar
Dewan Besar atau Gbara akan menjadi badan musyawarah Mandinka sampai runtuhnya Manden Kurufa tahun 1645. Pada pertemuan pertamanya, di Kouroukan Fouga (Divisi Dunia), terdapat 29 delegasi klan diketuai oleh belen-tigui (tuan upacara). Bentuk terakhir Gbara, menurut tradisi Guinea utara yang ada, terdiri aas 32 posisi yang diduduki oleh 28 klan.[17]
[sunting] Reformasi sosial, ekonomi dan pemerintahan
Kouroukan Fouga juga melakukan reformasi sosial dan politik dengan larangan terhadap penyiksaan tahanan dan budak, memasukkan wanita ke dalam pemerintahan dan menempatkan sistem olok-olok antara klan yang dengan jelas menyatakan siapa yang menyatakan tentang apa pada siapa. Sundiata juga membagi tanah di antara rakyatnya, memastikan semua orang memiliki tempat di kekaisaran dan memperbaiki nilai tukar untuk produk.
[sunting] Mari Djata I
Mansa Mari Djata mengawasi penaklukan dan penggabungan beberapa tokoh lokal penting di kekaisaran Mali. Ketika kampanye selesai, kekaisarannya terbentang 1.000 mil dari timur ke barat dengan perbatasan itu adalah tikungan Sungai Senegal dan Sungai Niger.[18] Setelah menyatukan Manden, ia menambah ladang emas Wangara yang menjadi perbatasan selatan. Kota perdagangan utara Oualata dan Audaghost juga ditaklukkan dan menjadi bagian dari perbatasan utara negara baru. Wagadou dan Mema menjadi sekutu junior pada kerajaan dan bagian dari inti imperium. Wilayah Bambougou, Jalo (Fouta Djallon), dan Kaabu berturut-turut dimasukkan kedalam Mali oleh Fakoli Koroma,[13] Fran Kamara, dan Tiramakhan Traore,[19] .
[sunting] Mali Imperial
Masjid Djenné.Terdapat 21 mansa kekaisaran Mali yang diketahui setelah Mari Djata I dan sekitar dua atau tiga lainnya yang masih harus diungkapkan. Nama pemimpin tersebut muncul dalam sejarah melalui djeli dan keturunan modern dinasti Keita di Kangaba. Yang membedakan para penguasa tersebut dari sang pendiri, selain dari peran sejarah dalam mendirikan negara, adalah transformasi Manden Kurufa menjadi kekaisaran Manden. Tidak puas hanya menguasai kawula Manding saja yang disatukan oleh kemenangan Mari Djata I, para mansa tersebut juga kemudian menaklukkan dan mencaplok Bangsa Peuhl, Wolof, Serer, Bamana, Songhai, Tuareg, dan bangsa-bangsa lain ke dalam sebuah kekaisaran yang besar.
[sunting] Garis keturunan Djata 1250-1275
Tiga penerus pertama Mari Djata semuanya mengklaim dengan hak darah atau sesuatu yang dekat dengannya. Pada periode 25 tahun in terlihat pendapatan luar biasa untuk para mansa dan awal persaingan internal sengit yang hampir mengakhiri kekaisaran.
[sunting] Ouali I
Setelah kematian Mari Djata tahun 1255, adat menentukan bahwa anak lelakinya naik tahta dengan mengasumsikan bahwa dia sudah cukup umur. Namun, Yérélinkon masih kecil ketika ayahnya mangkat.[20] Manding Bory, saudara tiri Mari Djata dan kankoro-sigui (wazir atau perdana menteri), seharusnya dinobatkan menurut Kouroukan Fouga. Anak laki-laki Mari Djata menguasai tahta dan dimahkotai sebagai Mansa Ouali (juga diucapkan “Wali”).
Mansa Ouali ternyata adalah kaisar yang baik dengan menambah kekuasaan kekaisaran Mali, termasuk provinsi Bati dan Casa di Gambia. Ia juga menguasai provinsi Bambuk dan Bondou yang memproduksi emas. Provinsi tengah Konkodougou didirikan. Kerajaan Songhai di Gao juga ditaklukan untuk pertama kalinya dalam periode ini. [12]
Selain penaklukan militer, Ouali juga melakukan reformasi pertanian terhadap kekaisaran dengan mempekerjakan pasukan menjadi petani di provinsi Gambia yang baru direbut. Tepat sebelum kematiannya tahun 1270, Ouali melaksanakan haji ke Mekkah untuk menguatkan hubungan dengan pedagang Afrika Utara dan Muslim. [12]
[sunting] Putra Jendral
Sebagai kebijakan mengendalikan dan memberi penghargaan jenderalnya, Mari Djata mengadopsi anak lelaki mereka. [13] Anak-anak tersebut diasuh di istana mansa dan menjadi keita ketika dewasa. Karena melihat tahta sebagai hak mereka, dua anak Mari Djata yang diadopsi saling berperang antara satu dengan yang lainnya. Perang ini hampir menghancurkan apa yang dibangun oleh dua mansa pertama. Anak pertama yang menguasai tahta adalah Mansa Ouati (juga disebut “Wati) tahun 1270.[21] Menurut djeli, ia berkuasa selama empat tahun. Ia adalah orang yang boros dan berkuasa dengan kejam. Dengan kematiannya tahun 1274, anak angkat lainnya menguasai tahta.[21] Mansa Khalifa diingat sebagai penguasa yang lebih buruk dari Ouati. Ia memerintah sama buruknya dan dilaporkan menembakan panah ke orang yang lewat dari atap istananya. Ia dibunuh, kemungkinan atas perintah Gbara, dan digantikan oleh Manding Bory tahun 1275.[22]
[sunting] Mansa Kerajaan 1275-1300
Setelah kekacauan pada masa kekuasaan Ouali dan Khalifa, beberapa pejabat istana yang memiliki hubungan dekat dengan Mari Djata berkuasa (atau memerintah). Mereka mulai mengembalikan keanggunan kekaisaran Mali dan menyiapkannya untuk sebuah zaman keemasan para pemimpinnya.
[sunting] Abubakari I
Manding Bory dimahkotai dengan nama Mansa Abubakari (bentuk Manding dari nama Muslim, Abu Bakr).[13] Ibu Mansa Abubakari adalah Namandjé,[13] istri ketiga Maghan Kon Fatta. Sebelum menjadi mansa, Abubakari menjadi salah satu jendral saudara lelakinya dan nantinya menjadi kankoro-sigui saudara laki-lakinya. Sedikit yang diketahui mengenai kekuasaan Abubakari I, tetapi ia berhasil menghentikan berkurangnya kekayaan Mali.
[sunting] Sakoura
Pada tahun 1285, seorang budak istana dibebaskan oleh Mari Djata yang juga telah menjabat sebagai seorang jenderal yang merebut takhta Mali.[12] Kekuasaan Mansa Sakoura (juga diucapkan Sakura) bermanfaat meskipun terdapat gonjang-ganjing politik. Ia menambah penaklukan pertama Mali sejak kekuasaan Ouali termasuk provinsi Tekrour dan Diara, bekas provinsi Wagadou. Penaklukannya tidak berhenti pada batas Wagadou saja. Ia berkampanye ke Senegal dan menguasai provinsi Wolof milik Dyolof dan lalu pergi ke timur untuk menguasai wilayah Takedda yang merupakan produsen tembaga. Ia juga menaklukan Macina dan menyerang Gao untuk menekan pemberontakan pertama melawan Mali.[12] Mansa Sakoura lebih dari hanya seorang prajurit belaka. Ia melaksanakan haji dan membuka negosiasi perdagangan langsung dengan Tripoli dan Moroko.[12]
Mansa Sakoura dibunuh ketika kembali dari Mekkah di atau sekitar Djibouti sekarang oleh pasukan Danakil yang mencoba merampoknya.[23] Pembantu kaisar membawa tubuhnya kembali melalu wilayah Ouaddai dan ke Kanem, tempat salah satu utusan kekaisaran yang dikirim ke Mali dengan berita kematian Sakoura. Ketika tubuhnya tiba di Niani, ia dimakamkan secara agung meskipun ia memiliki akar budak.[23]

0 Ulasan:
Catat Ulasan
Langgan Catat Ulasan [Atom]
<< Laman utama